Jumat, 19 Desember 2014

Problematika Umat Kontemporer


Problematika Umat Kontemporer
Oleh: Fajar Romadhon

Kondisi Historis Umat Islam
            Menurut Abul A’la al-Maududi, sebagaimana dikutip oleh Raswad (2009: 31) bahwa beliau mengklasifikasikan sejarah Islam dan umat Islam menjadi lima fase, yaitu masa ideal, masa kerajaan, masa penjajahan, masa kemerdekaan dan masa pasca kemerdekaan. Masing-masing fase memiliki latar belakang dan pengaruh bagi dunia Islam.
Masa Ideal
            Masa ideal ditandai dengan terjadinya revolusi peradaban, dari peradaban jahiliyah menjadi peradaban Islam. Rasulullah sukses membangun masyarakat tauhid. Tauhid loyalitas, tauhid sistem hidup, tauhid kepemimpinan dan tauhid ummah. Fase ini berjalan sampai berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin.
Masa Kerajaan
            Setelah itu Islam dan umat Islam melewati masa kerajaan; sejak berdirinya Dinasti Umawiyah hingga berakhirnya Dinasti Fathimiyah di Turki. Fase ini ditandai dengan terpecahnya kepemimpinan, terpecahnya loyalitas, lemah pemahaman dan penjiwaan ajaran Islam, Kontribusi budaya kedaerahan kedalam syariat Islam, lemahnya pendidikan, lahirnya ananiyah dan ashabiyah, kebangkitan Barat dan bergantinya sistem pendidikan. Dari pendidikan Islam yang universal dan integral menjadi dikotomi pendidikan; pendidikan umum dan pendidikan agama, dan parsialisasi pendidikan; penyadaran intelektual dipisahkan dari penyadaran moral.
            Kondisi fase ini menggiring Islam dan umat Islam memasuki masa penjajahan. Akibat yang terjadi pada fase ini terjadinya pergantian kepemimpinan, pembodohan umat Islam, umat Islam bekerja untuk tuan baru dan kemudian wilayah umat Islam dibagi-bagi oleh penjajah berdasarkan ras.
Masa Kemerdekaan
            Kemudian Islam dan umat Islam dipaksa memasuki fase kemerdekaan ala penjajah. Yakni kemerdekaan berdasarkan ras, nasionalisme, kemerdekaan parsial. Dan ketika itu tidak ada lagi Islam, yang ada adalah bangsa-bangsa muslim yang merdeka.
Masa Pasca Kemerdekaan
            Akhirnya sampailah Islam dan umat Islam pada kondisi pasca kemerdekaan, yang seyogyanya akan menemukan jati diri. Tetapi karena kemerdekaan yang dimaksud adalah rekayasa penjajah, maka akibatnya umat Islam tidak kenal apa itu kemerdekaan dan apa Islam. Kalaupun ada sementara orang mengaku bahagia dari Islam dan merasa prihatin terhadap kondisi yang melilit, kemudian berupaya untuk bangkit mengejar ketertinggalan, mereka terkena penyakit bingung pesimistis, sehingga lahir suatu anggapan bahwa tidak ada kemajuan Islam tanpa Barat.
            Dalam kondisi seperti ini, sementara mereka ada yang berteriak dan bangkit dengan gagasan pembaruan Islam. Sayangnya yang dimaksud dengan pembaruan oleh mereka adalah pembaratan nilai-nilai Islam (westernisasi).

Faktor Penyebab Problematika Umat Islam
            Dari uraian kondisi historis umat Islam diatas diperoleh asumsi bahwa umat Islam berada dalam kondisi yang cukup memprihatinkan. Keadaan seperti ini tidak terlepas dari faktor internal dan eksternal yang mempengaruhinya.
            Diantara faktor internal yang mempengaruhinya adalah: (1) Jauh dari kitab Allah dan Sunnah Rasul, (2) Juziyah iman (parsial terhadap wahyu), (3) Terperdaya oleh sistem hidup non-Islam, (4) Penyelewengan maksud Al-Qur’an, (5) Menghindar dari Al-Qur’an, (6) Hilangnya ruh Jihad; daya juang, (7) Hilangnya solidaritas dan kebersamaan, (8) Terpecah belah, (9) Terbelakang, (10) Taqlid (ikut-ikutan). Sedangkan faktor eksternalnya adalah adanya kekuatan Internasional yang bersama-sama memusuhi Islam, seperti halnya Zionisme dan gerakan pemurtadan (Raswad, 2009: 33-44).

Kekeliruan Konsepsi Keilmuan Islam
            Di dalam majalah ISLAMIA edisi ke 5/ 2005, yang membahas tentang “Epistemologi Islam”, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, pakar pemikiran Islam (Islamic thought) dan guru besar tamu di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) menguraikan bahaya kekeliruan dan kejahilan dalam ilmu. Menurut konsepsi Islam tentang kejahilan seperti diuraikan Ibn Manzur dalam karyanya, Lisan Al-‘Arab, bahwa kejahilan itu terdiri daripada dua jenis. Pertama, kejahilan yang ringan, yaitu kurangnya ilmu tentang apa yang seharusnya diketahui; dan kedua, kejahilan yang berat, yakni keyakinan salah yang bertentangan dengan fakta ataupun realita, meyakini sesuatu yang berbeda dengan sesuatu itu sendiri, ataupun melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda dengan yang seharusnya. Jelaslah bahwa kejahilan dalam kedua konteks di atas adalah penyebab utama terjadinya kesalahan, kekurangan, atau kejahatan manusia. Kejahilan yang ringan dapat dengan mudah diobati dengan pengajaran biasa ataupun pendidikan, tetapi kejahilan yang berat, merupakan sesuatu yang sangat berbahaya dalam pembangunan keilmuan, keagamaan, dan akhlak individu dan masyarakat. Sebab, kejahilan jenis ini bersumber dari diri rohani yang tidak sempurna, yang dinyatakan dengan sikap penolakan terhadap kebenaran (Husaini, 2006: 45-46).
            Kekeliruan konsep ilmu inilah yang akhirnya melahirkan manusia-manusia yang tidak beradab. Kemudian juga, bahwa kekeliruan konsepsi ilmu akan berdampak negatif terhadap kepribadian dan bahkan tatanan kehidupan masyarakat. Al-Attas (2010: 132) menyebutkan dampak dari kekeliruan konsepsi ilmu, yang sifatnya sirkulatif, berikut penjelasannya:
a.    Kekeliruan dan kesalahan dalam ilmu yang menyebabkan keadaan:
b.    Kehilangan adab di kalangan umat. Keadaan yang timbul dari (a) dan (b) adalah:
c.    Kemunculan pemimpin-pemimpin yang tidak layak untuk kepemimpinan yang sah bagi umat Islam, yang tidak memiliki taraf moral, intelektual dan spiritualitas yang tinggi yang disyaratkan untuk kepemimpinan Islam, yang melestarikan keadaan pada (a) di atas dan menjamin penguasaan urusan umat yang berkelanjutan oleh pemimpin-pemimpin seperti mereka yang menguasai semua bidang.
             Kekeliruan dalam konsepsi keilmuan Islam tersebut menimbulkan keanehan dan kesesatan. Seperti dikatakan oleh Adian Husaini bahwa, dari kampus-kampus berlabel Islam bermunculan pemikiran dan gerakan aneh. Dari IAIN Bandung, muncul teriakn yang menghebohkan, “selamat bergabung di area bebas Tuhan.” Tahun 2004, IAIN Yogyakarta membuat sejarah baru dalam tradisi keilmuan Islam, dengan meluluskan sebuah tesis master yang menyerang kesucian dan otentisitas Al-Qur’an. Dari fakultas Syariah IAIN Semarang, lahir jurnal yang menyerang Al-Qur’an dan memperjuangkan legalisasi perkawinan homoseksual. Pluralisme agama dan relativisme kebenaran- paham syirik modern yang menyerukan kebenaran semua agama- justru disebarkan dan diajarkan di lingkungan perguruan tinggi Islam. Dari UIN Jakarta, sejumlah dosennya justru menjadi pendukung gerakan perkawinan antaragama. Hal ini menjadi produk dari kekeliruan konsepsi keilmuan Islam.

Menghidupkan Tradisi Keilmuan
            Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi tradisi ilmu dan sangat menghargai ilmu. Suatu saat Sayyidina Ali didatangi beberapa orang dan menanyakan manakala yang lebih mulia ilmu atau harta. Ali menjawab: “Lebih mulia ilmu”. Ilmu menjagamu, harta kamu harus menjaganya. Ilmu bila kamu berikan bertambah, harta berkurang. Ilmu warisan para Nabi, harta warisan Firaun dan Qarun. Ilmu menjadikan bersatu, harta bisa membuat kamu berpecah belah dan seterusnya (Husaini, Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter & Beradab, 2012: 110).
            Al-Ghazali dalam Husaini (Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter & Beradab, 2012: 106) menjelaskan bahwa untuk meraih kemuliaan haruslah didasari dengan ilmu. Dengan ilmu, manusia tahu jalan yang mendaki; ia tahu bagaimana cara mendakinya; tahu bagaimana mengatasi halangan dan rintangan; dan tatkala suatu ketika dia tergelincir, dia pun tahu, bagaimana dia harus bangkit lagi, dan mendaki lagi menuju puncak taqwa dan bahagia. Sebab, dia yakin, bahwa di puncak sana, dia akan meraih bahagia, bisa semakin dekat dengan Yang Maha Kuasa, Pencipta dan Pemilik alam semesta. Karena itu, ilmu harus senantiasa tersedia; dalam kondisi apa pun. Tak heran, jika Islam begitu kuatnya mendorong umatnya agar tak pernah berhenti mengejar ilmu.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Attas, S. M. (2010). Islam dan Sekularisme. (K. Muammar, Ed.) Bandung: Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan.
Husaini, A. (2006). Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi. (N. Hidayat, Ed.) Jakarta: Gema Insani.
Husaini, A. (2012). Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter & Beradab. (N. Hidayat, Ed.) Jakarta: Cakrawala Publishing.

Raswad, M. (2009). Gerakan Pemurtadan dan Antisipasi. (T. P.-U. Wutsqo, Ed.) Indramayu: Pustaka Al-Urwatul Wutsqo.

Bijak Menilai Sejarah dan Realita Keindonesiaan


Bijak Menilai Sejarah dan Realita Keindonesiaan
Oleh: Fajar Romadhon

            Salah satu ciri bangsa Indonesia adalah heterogenitasnya. Kaya akan budaya, ideologi, agama, suku, ras, adat, mazhab, etnis, dan partai. Menjadi anugerah ketika heterogenitas tersebut saling sinergis dan harmoni. Seperti pelangi yang selalu menampakkan keindahan dan keanggunannya.
            Namun, pelangi indah itu belum nampak di bumi Indonesia ini. Heterogenitas itu menjadi ajang fanatisme dan primordialistik. Rasa saling curiga dan apriori terhadap sesuatu yang diluar golongannya menjadi pembias warna pelangi Indonesia. Tak jelas warnanya, karena belum menemukan titik terangnya.
            Miris ketika menyaksikan partai politik dan supporter sepakbola yang saling serang, padahal masih satu bangsa. Fanatisme ormas atau mazhab yang menimbulkan perilaku saling menghina. Perbedaan ideologi yang semakin primordial dan banyak menimbulkan pergolakan pemikiran dan polemik bahkan sampai dendam kesumat. Persatuan dan persaudaraan bangsa ini serasa terkotak-kotakan dengan perbedaan-perbedaan tadi. Adagium “bhineka tunggal ika” seakan hanya jargon kosong tanpa ruh. Bangsa ini seperti kehilangan jati dirinya dan sepertinya masyarakat kita mesti menengok kembali sejarah bangsanya.

Internalisasi sejarah
            Perlu disadari bahwa Indonesia terlahir dari semangat gotong royong dan solidaritas yang tinggi antar masyarakatnya. Begitupula Anis Matta pernah mengatakan bahwa jika kita bedah Indonesia pada hari kelahirannya, maka kita akan temukan bahwa nilai terdalamnya adalah solidaritas. Terbukti, bahwa masa penjajahan telah membentuk emosi yang sama diantara kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia. Karena dahulu, kekuatan bangsa ini ada pada kerajaan-kerajaan yang terpisah satu sama lain. Kerajaan-kerajaan ini mulai sadar bahwa melawan penjajah tidak lagi bisa dilakukan hanya dengan satu kekuatan kerajaan. Mereka butuh upaya kolektif untuk bersama melawan penjajah. Kesadaran dan emosi yang yang sama telah mempertautkan berbagai kekuatan yang ada di nusantara ini dan bertumbuh dari etnis menjadi sebuah bangsa.
            Selain itu, jauh sebelum merdeka- bangsa ini dihadirkan dengan peristiwa sumpah pemuda. Peristiwa yang menjadi salah satu catatan sejarah yang tidak boleh terlupakan oleh generasi Indonesia masa depan. Karena peristiwa ini telah memberikan ruh dalam catatan sejarah bangsa ini. Peristiwa sumpah pemuda menjadi ajang bahwa bangsa ini membutuhkan identitas yang sama demi eksistensinya. Walaupun mereka berbeda-beda suku, ras, etnis, dan agama. Tetapi mereka tidak lagi berfikir promordial melainkan colective mind. Berikut penggalan sumpah pemuda:
Kami putra dan putri Indonesia bersumpah, bertanah air satu tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia bersumpah, berbangsa satu bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia bersumpah, berbahasa satu bahasa Indonesia
             Founding Father bangsa ini sejatinya mencita-citakan kedamaian, keharmonisan, persatuan dan kesatuan Indonesia. Kita mengenal salah satu founding father bangsa ini, yakni Muhammad Natsir. Sejarah tidak akan mungkin menghapuskan jasa besar M. Natsir dalam memulihkan Republik Indonesia ini menjadi Negara kesatuan melalui gagasan cerdasnya, yakni mosi integral Natsir. Muhammad Natsir berhasil dalam mengembalikan persatuan dan kesatuan NKRI dengan cara-cara yang sangat terhormat dan bermartabat.
            Membaca sejarah bukan berarti kita ingin lari ke masa lalu, melainkan dengan sejarah kita bisa mengambil hikmah untuk bekal masa depan. Salah satu jalan agar bangsa ini menjadi besar adalah dengan menghargai dan menilai dengan bijak sejarah masa lalunya.

Optimalisasi budaya ilmiah
            Jika kita bijak dalam menilai sejarah bahkan realita sekarang di Indonesia, maka unsur-unsur heterogenitas, tidak lagi menjadi masalah. Malahan heterogenitas menjadi suatu keniscayaan. Bahkan untuk mengelola bangsa sebesar ini pun tidak bisa dikelola oleh satu partai saja. Artinya kita perlu mengelola bangsa ini bersama-sama, walaupun berbeda-beda identitasnya.
            Kunci permasalahannya, ada pada bagaimana kita berkomunikasi, karena komunikasi suatu hal yang sering kita lakukan sebagai makhluk sosial. Namun, komunikasi yang tidak efektif akan memicu konflik atau polemik yang kadang tidak produktif. Muhsin Hariyanto dalam kajian tafsir tematiknya tentang prinsip-prinsip komunikasi dalam Islam mengatakan bahwa dengan komunikasi kita dapat membentuk saling pengertian dan menumbuhkan persahabatan, memelihara kasih sayang, menyebarkan pengetahuan, dan melestarikan peradaban. Akan tetapi, dengan komunikasi, juga kita dapat menumbuh-suburkan perpecahan, menghidupkan permusuhan, menanamkan kebencian, merintangi kemajuan, dan menghambat pemikiran.
            Komunikasi yang beradab dan bermartabat bisa dilakukan melalui penguatan budaya ilmiah dalam dunia pendidikan. Karena kapasitas keilmuanlah yang akan membuat seseorang bijak dalam menilai segala sesuatunya termasuk realita Indonesia sekarang.
            Solusi yang paling tepat atas masalah-masalah yang ada di Indonesia adalah optimalisasi pendidikan dan tingkatkan budaya keilmuan. Mungkin teori Jalaluddin Rakhmat yang agak tepat atas hal ini. Bahwa pendidikan yang memiliki mutu akan menghasilkan kualitas SDM yang mampu produktif dalam segala hal, dan hal ini akan berimbas pada tingkat pendapatannya. Term-term ini juga saling berkesinambungan, seperti halnya satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Kata kuncinya; pendidikan-kualitas SDM-produktivitas-pendapatan. Itu semua sirkulatif.
        Internalisasi sejarah dengan bijak yang kemudian dikonversikan dengan realita sekarang serta peningkatan budaya ilmiah/ keilmuan akan menunjang suatu komunikasi beradab dan bermartabat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Wallahua'lam

Senin, 26 Mei 2014

Keimanan dan Kepekaan Sosial



Keimanan dan Kepekaan Sosial
Oleh: Fajar Romadhon
            Islam adalah agama amal. Setiap individu muslim yang beriman tidak lagi memikirkan dirinya semata, tetapi memikirkan individu yang lain pula. Amal perbuatan yang dilakukan tidak lagi untuk dirinya, tetapi berusaha untuk memberi kebermanfaatan untuk yang lain. Itulah sebabnya Islam tidak menganjurkan seorang muslim untuk soleh secara pribadi tetapi harus soleh secara sosial juga.
            Islam tidak hanya sebatas ajaran atau gagasan, melainkan Islam harus bisa diejawantahkan dalam amal perbuatan. Begitupun juga dengan iman, tidak dikatakan beriman apabila hanya diucapkan dengan lisan dan diyakini dalam hati tanpa dibuktikan dengan amal perbuatan.
            Islam mengajarkan untuk bersedekah, mengasihi anak yatim, menolong yang lemah dan berbuat baik pada sesama. Hal ini membuktikan bahwa Islam memikirkan hal-hal yang sifatnya sosial. Apabila ada yang berpendapat bahwa Islam tidak lagi bisa menjadi solusi atas masalah-maslah sosial di bangsa ini, itu sebuah kesalahan besar. Al-Qur’an dan sunnah sebenarnya sudah memuat pokok-pokok dari seluruh segmen kehidupan manusia. Terkadang interpretasi dari nilai-nilai Al-Qur’an dan sunnah itu yang belum dipahami oleh kebanyakan orang.
            Agaknya pendapat Ahmad Wahib terkait hal diatas lebih memperjelas, bahwa kalimat Islam cocok di segala zaman akan lebih relevan apabila Islam diinterpretasikan berdasarkan keilmuan bukan berdasar keinginan subjektif.
            Semakin tinggi keimanan seseorang maka akan semakin tinggi pula kepekaan terhadap kondisi sosialnya. Ini merupakan konsekuensi logis dari keimanan. Sabda Rasul: “Tidak beriman seseorang apabila membiarkan dirinya kenyang dan tidur nyenyak sedangkan tetangganya kelaparan dan menderita”.
            Seorang intelektual tidak dikatakan sebagai intelektual apabila tidak peka terhadap kondisi sosialnya. Karena seorang intelektual ketika berfikir tak lepas dari pengamatannya terhadap kondisi sosial sekitarnya. Jika Islam adalah agama amal, maka Islam tidak menghendaki perdebatan-perdebatan yang pada akhirnya tidak membuahkan amal perbuatan.
            Kisah KH. Ahmad Dahlan agaknya menjadi representasi yang relevan dari korelasi keimanan dan kepekaan terhadap kondisi sosial. Setiap kali KH. Ahmad Dahlan hendak mengajar, beliau senantiasa membaca surat Al-Ma’un bersama-sama dengan para muridnya. Tak jarang murid-muridnya bertanya kepada KH. Ahmad Dahlan, mengapa harus membaca surat Al-Ma’un?. Itulah Islam yang tidak hanya menyoal masalah ibadah mahdhah, tetapi ibadah ghair mahdhah pula.
            Jika surat Al-Ma’un kita baca artinya, rupanya sangat korelatif sekali antara keislaman seseorang dengan kepekaan terhadap kondisi sosialnya. Islam tidak hanya mengajarkan ibadah-ibadah yang sifatnya vertikal, tetapi memperhatikan ibadah yang horizontal juga. Keislaman dan keimanan seseorang harus proporsional pula dengan kepekaan terhadap kondisi sosialnya. Perhatikan arti dari surat Al-Ma’un ayat 1-7: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?. Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.”

Rabu, 05 Februari 2014

Pemuda Pilar Kebangkitan Peradaban Islam


Pemuda Pilar Kebangkitan Peradaban Islam
Oleh: Fajar Romadhon

            Sudah menjadi hukum Allah bahwa kehidupan manusia itu fluktuatif. Iman seseorang mengalami fluktuasi, begitupula fluktuasi yang terjadi dalam konstelasi peradaban Islam. Dalam sejarah dikatakan bahwa peradaban Islam mengalami kejayaan dan kegemilangannya pada masa Rasulullah, Khulafa ar-Rasyidin, sampai Turki Utsmani. Pada masa-masa itu Islam sangat progresif dan ekspansif. Setelah itu peradaban Islam mengalami kemerosotan dan kemunduran. Kemunduran peradaban Islam setidaknya dikarenakan oleh faktor internal dan eksternal yang sangat signifikan.
            Faktor internal: Pertama, jauhnya umat Islam dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Menurut Ibnu Taimiyah bahwa bahwa orang yang mengacuhkan Al-Qur’an adalah mereka yang tidak membaca Al-Qur’an, membaca Al-Qur’an namun tidak mentadabburinya, serta membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya namun tidak mengamalkannya. Kedua, terpecah belahnya umat Islam karena perbedaan masalah furu’ (cabang) dalam hal fiqih. Ketiga, adanya perasaan rendah diri dan tidak tsiqah (percaya) pada umat. Islam seperti kehilangan harga dirinya sehingga banyak yang enggan menunjukkan identitas keislamannya, perasaan ini muncul karena melihat kondisi faktual umat Islam yang cenderung berada di bawah. Rupanya umat Islam lupa akan perkataan Rasulullah, “Al-Islamu ya’lu wa laa yu’la ‘alaih” (Islam itu tinggi dan tidak ada yang menandingi ketinggiannya). Keempat, adanya gejala taqlid (mengikuti tanpa dasar ilmu yang jelas dan benar), sehingga hal ini membuat umat Islam menjadi rigid atau tidak berkembang. Kelima, umat Islam tertinggal dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Faktor eksternal: Pertama, adanya ghazwul fikri (perang pemikiran). Kedua, adanya harakatul irtidad (gerakan pemurtadan), dan penjajahan dari bangsa asing.
            Setelah melihat sejarah serta realita umat Islam, dan mengetahui pula posisi penyakit umat Islam yang menyebabkan kemundurannya. Maka yang menjadi keharusan adalah beramal untuk mengubah realitas dan menyelamatkan umat Islam dari berbagai kerusakan moral dan bencana. Sudah saatnya umat Islam kembali membangun peradaban yang gemilang. Dari pada mengutuk kegelapan atau problematika umat saat ini, lebih baik menyalakan lilin, berfikir positif dan melakukan kerja-kerja dalam menopang batu bata sebagai bangunan peradaban Islam yang akan diraih kembali.
            Dari beberapa aset yang masih tersisa di dunia ini salah satunya adalah para pemuda yang memiliki peran strategis dalam upaya perubahan dan kejayaan Islam. Seorang ulama kontemporer Mesir, Imam Hasan Al-Banna menggambarkan karakter sosok pemuda, “Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat dan amal merupakan karakter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimaanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda.”
            Sebagaimana karakter pemuda yang disebutkan diatas, seorang tokoh yang sering dijuluki bapak proklamator Indonesia, yakni Soekarno pernah berkata, “Berilah saya 100 orang tua niscaya akan saya pindahkan gunung semeru bersamanya, berilah saya 10 pemuda niscaya akan saya guncang dunia bersamanya”. Dari perkataan ini terdapat sesuatu yang istimewa dan kemampuan yang lebih pada diri seorang pemuda. Maka pemuda Islam tidak lain harus bisa menjadi frontline dalam upaya membangun peradaban Islam yang gemilang. Terdapat api yang menggelora dalam jiwa pemuda, sebagaimana bung Rhoma Irama pernah berkata, “Masa muda adalah masa yang berapi-api.”
            Jika Imam Hasan Al-Banna menyebutkan empat karakter pemuda, maka di beberapa literatur pergerakan pemuda/mahasiswa setidaknya terdapat empat kekuatan yang tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali para pemuda itu sendiri. Pertama idealisme, pemuda dalam mengaplikasikan ide-idenya senantiasa didrive oleh nilai-nilai moral yang bersumber dari agama atau kultur masyarakatnya. Bukan keuntungan dan jabatan yang dicari, namun terealisasinya ide-ide itulah yang menjadi harapannya. Kedua intelektual, masa muda senantiasa ditandai dengan gaya berfikir yang argumentatif-ilmiah dan mengukur segala sesuatunya dengan logis-empiris. Ketiga sikap kritis dan kepekaan sosial, pemuda tidak hanya menonjolkan ranah pemikirannya, tapi pemikiran yang benar itu terejawantahkan dalam kepekaan terhadap sosialnya. Dan akan ada sikap perlawanan dari para pemuda, jika ada siapapun yang akan menghalangi pergerakan pemuda dalam merealisasikan cita-citanya. Keempat keberanian, dalam merealisasikan ide-idenya pemuda memiliki keberanian dalam menanggung setiap risiko yang akan dihadapinya. Dan pada titik inilah terakumulasi antara keberanian, kecerdasan dan kebenaran.
            Oleh sebab itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah (pemikiran), pemuda adalah pengibar panji-panjinya. Sebagaimana dalam sejarah, banyak pemuda yang telah berkontribusi dalam kejayaan Islam seperti, Muhammad al-Fatih penakluk Konstantinopel, Shalahuddin al-Ayyubi pembebas Yarussalem,  Thariq bin Ziyad, Khalid bin Walid, dan Saad bin Abi Waqqas. Kemudian yang menjadi pertanyaannya adalah pemuda seperti apa yang mampu mengemban amanah dalam upaya kebangkitan peradaban Islam. Allah telah menggambarkannya dalam Al-Qur’an:
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى (١٣)وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا (١٤)
Artinya: “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk (13) dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, "Tuhan Kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya Kami kalau demikian telah mengucapkan Perkataan yang Amat jauh dari kebenaran (14).” (QS. Al-Kahfi [18]: 13).
            Dari ayat ini, Imam Hasan Al-Banna dalam risalah pergerakannya mengatakan untuk para pemuda khususnya mahasiswa bahwa, “Sesungguhnya banyak kewajiban kalian, besar tanggungjawab kalian, semakin berlipat hak-hak umat yang harus kalian tunaikan, dan semakin berat amanah yang terpikul di pundak kalian. Kalian harus berfikir panjang, banyak beramal, bijak dalam menentukan sikap, maju untuk menjadi penyelamat, dan hendaklah kalian mampu menunaikan hak-hak umat ini dengan sempurna.”
            Karakter dan kekuatan pemuda yang telah dijelaskan diatas akan lebih besar pengaruhnya bagi kebangkitan Islam, manakala pemuda menunjukkan peranan dan eksistensinya. Jika merujuk pada (QS. Al-Kahfi [18]: 14), “dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, "Tuhan Kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya Kami kalau demikian telah mengucapkan Perkataan yang Amat jauh dari kebenaran.” Maka peran pemuda Islam sekarang secara umum, setidaknya harus bangkit dan berkarya. Kalau diartikan secara mudahnya, bahwa berdiri’ sama halnya dengan bangkit, sedangkan berkata’ sebagai perwujudan dari berkarya. Bangkit dan berkaryanya pemuda Islam sekarang harus ditandai dengan menghidupkannya kembali Al-Qur’an dan As-Sunnah ditengah maraknya kehidupan hedonisme dan pragmatisme, mengkaji ilmu-ilmu agama/pengetahuan dan teknologi, tidak lagi malu dengan identitas keislamannya, tidak lagi mempersoalkan masalah furu’ (cabang) dalam fiqih, berani bersaing di dunia global, berkontribusi sebagai karya nyata untuk umat, dan menyebarluaskan syiar Islam dan beramar ma’ruf nahi munkar.
            Terakhir, pemuda dan umat Islam secara keseluruhan harus pula memahami QS. Ali-Imran [3]: 110 dan QS. Al-Baqarah [2]: 143, sebagai berikut:
            Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali-Imran [3]: 110).
            Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas perbuatan kamu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 143).
            Oleh karenanya, Allah menyeru kepada umat Islam hendaklah yakin akan eksistensi kalian, mengetahui posisi kalian, dan percaya bahwa kalian adalah pewaris kekuasaan dunia, meski musuh-musuh menghendaki agar kalian terhina.
            Pesan terakhir, penulis mengutip perkataan dari Imam Hasan Al-Banna: “Wahai pemuda perbaruilah iman, kemudian tentukan sasaran dan tujuan langkah kalian. Sesungguhnya, kekuatan pertama adalah iman, buah dari iman adalah kesatuan, dan konsekuensi logis dari kesatuan adalah kemenangan yang gemilang. Oleh karenanya, berimanlah kalian, eratkanlah ukhuwah, sadarilah, dan kemudian tunggulah datangnya kemenangan. Wallahu a’lam

Sosok KH. Hasyim Asy'ari