Rabu, 05 Februari 2014

Puisi Untuk Ibu


Puisi Untuk Ibu
…………………………..

Ibu, yang pedihnya melepaskanku dari kandunganmu
Ibu, yang segarnya air susumu membuat langgengnya hidupku
Ibu, yang kehangatannya menina bobokanku
mengarungi mimpi-mimpi indah kehidupan
Ibu, yang tangan lembutnya menuntunku
menuju luasnya dunia
Ibu, yang peluhnya mendudukkanku di atas kursiku sekarang
Ibu, yang tetes-tetes air matanya selalu menyertaiku dalam suka dan duka
Ibu, kini maaf anakmu yang belum sempat dapat menyenangkan hidupmu
Ibu, hanya seuntai do’a ini yang dapat ananda panjatkan
Rabbana faghfirlana wali walidaina warhamhuma kama rabbayani shaghira
Ibu, semoga maaf  dan ridhamu menyertai ananda selalu, dalam hidup ini.
-Ananda-


            Puisi ini ditulis oleh seorang Ustad pengasuh pondok Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Indramayu, KH. Drs. Yunus Rasyidi, beliau mengirimkan puisi ini kepada Ayah saya, dan ayah saya pun mengirimkannya kepada saya. Puisi ini saya publish di blog ini sebagai refleksi 20 tahun umur saya pribadi yang belum bisa memberikan yang terbaik untuk Ibu dan Ayah tercinta secara optimal. Semoga do’a-do’a yang selama ini saya panjatkan kepada Allah satu persatu dikabul. Amin

Sabtu, 11 Januari 2014

Membangun Kesadaran Untuk Saling Bantu

Membangun Kesadaran Untuk Saling Bantu
Oleh: Fajar Romadhon

            Manusia merupakan makhluk sosial, sehingga tidak bisa hidup sendiri tanpa adanya interaksi dan bantuan dari manusia yang lain. Oleh sebab itu tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini selain untuk beribadah dan menjadi khalifah adalah untuk saling ta’aruf (mengenal). Hal ini merupakan fitrah yang telah Allah berikan kepada manusia. Saling mengenal menjadi kunci pembuka untuk saling membantu. Namun yang perlu menjadi catatan adalah bahwa jangan menunggu kenal terlebih dahulu kemudian kita tidak membantu seseorang yang sedang kesulitan atau ditimpa musibah. Hanya saja terkadang apabila sudah saling kenal dalam membantu pun akan lebih loyal (penuh kesetiaan). Saling bantu dalam ajaran Islam tidak hanya sesama pemeluknya, melainkan membantu non-muslim pun dibolehkan. Namun Islam membatasi pemeluknya hanya boleh bekerjasama dan membatu non-muslim dalam hal yang sifatnya duniawi dan berkenaan dengan muamalat, tidak dalam hal keimanan atau aqidah. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (١٣)
Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).
            Membangun kesadaran untuk saling bantu setidaknya ada tiga hal yang menjadi kunci pembukanya. Kunci pertama adalah saling mengenal (ta’aruf) sebagaimana telah dijelaskan diatas. Kedua adalah saling memahami (tafahum) dan ketiga saling menanggung beban bersama (takaful). Jika ketiga kunci ini diterapkan dalam kehidupan masyarakat maka akan tercipta kehidupan yang saling membantu dan bahkan lebih dari pada itu. Begitu indah Islam mengajarkan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan. Dan ketiga kunci ini akan terakumulasi menjadi suatu ikatan persaudaraan yang kokoh (ukhuwah). Dan ketiga kunci ini menjadi sarana untuk mengupgrade atau memperbaiki hubungan masyarakat jika terjadi perselisihan. Allah telah menegaskan bahwa orang mukmin itu saling bersaudara. Allah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (١٠)
Artinya: “Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10).
            Kunci kedua sebagai upaya membangun kesadaran untuk saling bantu adalah tafahum (saling memahami). Tafahum (saling memahami), yaitu hendaknya seorang muslim memperhatikan keadaan saudaranya agar bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya meminta, karena pertolongan merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia tunaikan. Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad Saw., beliau bersabda: “Barang siapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.” (HR. Muslim).
            Kunci ketiganya adalah takaful (saling menanggung beban bersama). Tidak sepatutnya seorang muslim itu berdiam diri ketika melihat saudaranya kesulitan atau ditimpa musibah. Ciri seorang muslim sejati adalah saling membantu dan saling menanggung beban bersama. Setelah mengenal dan memahami, maka yang diharapkan akan tumbuh rasa takaful (saling menanggung beban bersama) dan sikap ta’awun (saling menolong). Karena inilah sesungguhnya yang akan menumbuhkan rasa cinta pada diri seseorang kepada kita. Bahkan Islam sangat menganjurkan kepada ummatnya untuk saling menolong dalam kebaikan dan takwa. Rasullullah Saw., telah mengatakan bahwa bukan termasuk umatnya, orang yang tidak peduli dengan urusan umat Islam yang lain. Oleh sebab itu jika kaum muslimin menginginkan kesatuan yang kokoh maka rapatkan barisan berjama’ah (kebersamaan) di segala bidang. Analoginya, seperti halnya satu batang lidi tidak akan bisa membersihkan sampah, tetapi jika lidi-lidi disatukan menjadi satu ikatan yang kuat dan kokoh maka sampah mana yang tidak bisa dibersihkan. Dan sesama muslim atau bahkan kepada non-muslim pun jangan saling mendzolimi. Berikut dalil Al-Qur’an dan Haditsnya:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢)
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah [5]: 2).
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Artinya: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal bagaimana mereka saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila ada sebagian dari tubuhnya yang sedang sakit, maka bagian tubuh yang lain turut merasakannya, sehingga membuatnya tidak bisa tidur dan demam. (HR. Muslim).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً . الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ . التَّقْوَى هَهُنَا –وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
Artinya:  “Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu disini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim).
            Dengan saling tolong-menolong akan banyak menuai manfaat, diantaranya adalah pekerjaan akan cepat terselesaikan dan mendekati kesempurnaan, risalah Islam akan mudah dan cepat tersebar luas, menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang, memperlancar perintah Allah dalam amar ma’ruf nahi munkar, terciptanya tatanan masyarakat yang adil dan makmur dan sebagainya.
            Membangun perubahan tidak bisa dilakukan dengan segelintir orang, oleh karenanya harus kolektif. Membangun perubahan harus diawali dengan pembenahan paradigma atau mindset. Upaya membangun komunitas atau masyarakat yang saling tolong-menolong harus diawali dengan pembentukan kesadaran hidup berjama’ah. Kesadaran dan paradigma itu dapat dibentuk dari ketiga kunci diatas; ta’aruf, tafahum, dan takaful/ ta’awun. Wallahu a'lam

Minggu, 05 Januari 2014

Pengabdian Pada Masyarakat


Pengabdian Pada Masyarakat
Oleh: Fajar Romadhon

            Mungkin dikalangan mahasiswa atau pegiat sosial masyarakat istilah pengabdian pada masyarakat sudah tidak asing lagi. Karena mereka yang hatinya sudah terpatri untuk mengabdi untuk khalayak akan senantiasa menebar manfaat dalam hidupnya. Banyak kisah-kisah inspiratif dari orang-orang yang menjadi pegiat sosial atau aktivis kemanusiaan. Bakhan dari pekerjaannya sebagai aktivis kemanusiaan itu mereka bisa keliling dunia. Para aktivis kemanusiaan tidak memandang suku, etnis, dan agama. Ketika ada musibah yang menimpa umat manusia, mereka akan segera beraksi untuk menolong. Panggilan jiwa dan ketulusan hati yang membuat mereka tetap konsisten menolong sesama.
            Penulis buku “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia” yaitu Michael H. Hart menempatkan Muhammad Saw., diurutan paling pertama, karena sepanjang perjalanan sejarahnya Muhammad Saw., telah banyak meraih keberhasilan di semua bidang. Oleh sebab itu Allah Swt., menyebutkan bahwa dalam pribadi Muhammad Saw., terdapat teladan yang baik.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (٢١)
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).
            Karena Michael H. Hart saja sebagai seorang nonmuslim menempatkan Muhammad Saw., diurutan pertama dalam bukunya, Maka penulis pun akan mengawali tulisan ini dari kisah inspiratif Muhammad Saw., dalam hal pengabdian pada masyarakat.
            Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa Muhammad Saw., setiap hari memberikan dan menyuapkan makanan kepada seorang nenek buta dari kalangan Yahudi di suatu pojok pasar. Setiap kali Muhammad Saw., hendak menyuapkan makanan, beliau senantiasa melembutkannya terlebih dahulu agar mudah di telan oleh nenek buta tersebut. Namun dalam suatu percakapannya dengan Muhammad Saw., nenek buta tersebut menjelek-jelekan dan membenci Muhammad Saw. Dan Muhammad Saw., hanya diam dan tersenyum.
            Ketika Muhammad Saw., wafat, Abu Bakar Ash-Siddiq bertanya kepada Aisyah, “Wahai Aisyah amalan apa yang senantiasa dilakukan oleh Muhammad Saw., semasa hidupnya? Aisyah menjawab, “Beliau senantiasa memberikan makan kepada seorang nenek buta di pojok pasar. Maka Abu Bakar pun bergegas untuk melanjutkan amalan yang senantiasa dilakukan oleh Muhammad Saw., semasa hidupnya.
            Ketika Abu Bakar memberikan makanan kepada nenek buta tersebut, sang nenek buta langsung berkata, “Siapa engkau, dan kenapa bukan seperti biasanya engkau melembutkan makanan tersebut terlebih dahulu untuk memudahkanku menelannya? Kemudian dijawab, “Saya Abu Bakar Ash-Siddiq, dan orang yang senantiasa memberi dan menyuapkanmu makanan adalah Muhammad Saw., dan sekarang beliau telah wafat. Setelah mendengar jawaban dari Abu Bakar, nenek buta tersebut langsung menagis dan menyatakan diri masuk Islam.
            Itu hanya sebagian kecil dari keteladanan Muhammad Saw. Mengabdi untuk masyarakat tidak hanya kepada yang se-agama, se-suku atau se-etnis. Melainkan kepada seluruh umat manusia yang membutuhkan pertolongan. Muhammad Saw., sebagai pemimpin agama dan pemimpin negara dalam sejarahnya telah berhasil memberi cinta dan pelayanan terhadap yang dipimpinnya.
            Pesan untuk mahasiswa. Dalam Tridharma Perguruan Tinggi disebutkan salah satunya adalah pengabdian pada masyarakat. Oleh karenanya tidak dikatakan sebagai mahasiswa kalau tidak mengabdi dan tidak memiliki niat untuk mengabdi. Sehingga menjadi suatu keharusan kepada mahasiswa untuk mengabdi pada masyarakat. Karena mahasiswa itu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Pengabdian dilakukan bukan untuk mencari popularitas dan pencitraan, tetapi untuk menciptakan kebaikan dan keharmonisan dalam hidup. Mengabdilah dengan semua kemampun yang dimiliki baik tenaga, finansial, akal fikiran/ ide, gagasan. Pengabdian pada masyarakat bukan masalah siap dan tidak siap, tetapi kesadaran. Masyarakat tidak menilai seberapa kayanya seseorang, tetapi karya dan kontribusi apa yang sudah diberikan untuk kemaslahatan masyarakat. Pada akhirnya yang dilihat adalah nilai kebermanfaatan pribadi seseorang bukan kekayaan dan popularitasnya. Wallahu a'lam

Kamis, 26 Desember 2013

Otak Ekspansi

Otak Ekspansi
Oleh : Fajar Romadhon

            Otak ekspansi merupakan otaknya para pejuang yang berjiwa revolusioner. Kata otak ekspansi hanyalah sebuah istilah saja. Istilah otak ekspansi, penulis pertama kali mendengarnya dari video taujih yang disampaikan oleh Ust. Anis Matta.
            Kita bisa belajar dari para sahabat Rasul dan tokoh-tokoh di Indonesia yang memiliki otak ekspansi itu. Otak ekspansi bisa diartikan juga sebagai otaknya orang-orang yang memiliki mental penyerang dan petarung. Sehingga kalau kita pelajari tipologi orang-orang yang memiliki mental penyerang dan petarung ini, maka kaidah pertama yang harus dipahami adalah bahwa ketika sudah melangkah, maka tiada kata untuk mundur kembali. Itulah otak ekspansi. Kita akan sedikit menggali sejarah orang-orang yang memiliki mental penyerang dan petarung itu.
            Dalam otak para petarung tidak ada istilah putus asa dan menyerah, kalaupun pernah mundur bukan berarti mereka kalah total, tetapi sejenak untuk mengatur strategi penyerangan kembali. Untuk tipikal seorang pemimpin atau panglima perang, istilah otak ekspansi harus bisa dimiliki dan dipraktekan. Kita mengenal sosok panglima perang umat Islam dahulu yang masyhur, beliau adalah Khalid Ibn Walid. Kita pun mengenal Bapak Proklamator Indonesia, beliau adalah Soekarno.
            Otak ekspansi. Bukan berarti otoriter dan diktator, tetapi sebuah ketegasan yang matang. Mental penyerang dan revolusioner merupakan karakter yang ada pada diri seorang pejuang. Dalam sejarah banyak yang menggambarkan bagaimana para pemimpin yang menggunakan istilah otak ekspansi ini menemukan kesuksesannya dalam memimpin. Dan terkadang pemimpin yang tidak memiliki mental seperti ini akan cenderung di intervensi dan mudah dipengaruhi orang lain yang memiliki kepentingan.
            Khalid Ibn Walid dalam kitab-kitab sirah pernah berujar “Sungguh lebih aku sukai suatu malam yang dingin dalam sebuah peperangan daripada bermalam dengan seorang wanita cantik”. Itulah seorang Khalid Ibn Walid, karakternya tegas dan mentalnya seperti petarung. Otak ekspansi yang dimiliki seorang mukmin harus didasari oleh optimisme atau keyakinan iman yang mendalam kepada Allah. Iman kepada Allah-lah yang menjadikan Khalid Ibn Walid seperti itu. Sehingga hidupnya diorientasikan hanya untuk Allah.
            Di Indonesia punya sejarah yang fenomenal. Aktornya adalah seorang pemuda yang pernah menjadi presiden pertama Republik Indonesia ini, beliau adalah Soekarno. Istilah otak ekspansi bisa direpresentasikan kepada Soekarno. Saat-saat menjelang kemerdekaan, golongan tua dan golongan muda berseteru terkait rencana kemerdekaan bangsa Indonesia. Golongan muda akhirnya berhasil membawa Soekarno. Dan ketika melihat situasi dimana terjadi kekosongan kekuasaan dan Jepang telah menyerah tanpa syarat pada sekutu. Pada saat momentum itulah Soekarno membacakan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia yang dihadiri oleh beberapa tokoh-tokoh penting Indonesia. Akhirnya Indonesia merdeka. Kalau pada waktu itu Soekarno dan golongan muda tidak menginisiasi kemerdekaan indonesia, mungkin Indonesia akan lama merdekanya.
            Sebenarnya Indonesia belum siap untuk merdeka, tetapi Soekarno melihat momentum yang tepat. Maka Soekarno langsung memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Itulah otak ekspansi yang dimiliki Soekarno. Coba perhatikan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia:
“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia, hal-hal yang menyangkut pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”

            “Diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya” merupakan sebuah isyarat belum sempurnanya kemerdekaan Indonesia. Tetapi Soekarno memandangnya yang penting merdeka terlebih dahulu, untuk menyempurnakannya sambil berjalan. Cerdas dan brilian. Istilak otak ekspansi akan lebih kuat dengan kedalaman iman kepada Allah dan kedalaman ilmu yang matang. Wallahu a'lam

Minggu, 01 Desember 2013

Bangkit dan Berkarya

Bangkit Dan Berkarya
Oleh : Fajar Romadhon

            Judul bangkit dan berkarya yang penulis cantumkan, terinspirasi dari visi bakal calon Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Republik Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (BEM REMA UPI) 2014, yaitu Achmad Faqihuddin.
            Bangkit dan berkarya merupakan kata kerja yang kini harus terimplementasikan dalam pentas sejarah peradaban Indonesia. Bangkit dari keterpurukan dan berkarya untuk kejayaan. Problematika negeri ini sudah cukup banyak, namun solusi yang tersedia belum cukup untuk menjawab segala problematika yang ada. Rasanya kurang etis kalau hanya mengutuk Indonesia tercinta ini karena  problematika yang ada tanpa menghadirkan solusi dan gagasan-gagasan besar untuk perbaikannya. Karena siapa lagi yang akan menyelesaikan problematika negeri ini kalau bukan aku, kamu dan kita semua sebagai warga Indonesia.
            Indonesia butuh optimisme dan ide-ide besar untuk bisa bangkit dan berkarya. Kini saatnya Indonesia menutup lembaran kelamnya dan membuka lembaran baru, namun jangan pernah melupakan sejarah. Jangan sampai cara berfikir kita parsial dan menciut ketika dihadapkan dengan berbagai problematika. Ada pepatah Arab yang mengatakan “Kullu Marhalatin Rijaluha” jadi setiap tingkatan atau zaman itu ada laki-lakinya (pahlawan). Berbeda zaman akan berbeda pula problematikanya, dan setiap problematika itu ada pahlawan yang akan menjadi inisiator untuk menyelesaikannya.
            Belajar dari kisah para pemuda kahfi yang terasing demi kebenaran hakiki, menjadi inspirasi untuk bangkit dan berkarya. Allah Swt., berfirman dalam Q.S. Al-Kahfi [18]: 13-14. Artinya: “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk” (13). “Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, "Tuhan Kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya Kami kalau demikian telah mengucapkan Perkataan yang Amat jauh dari kebenaran” (14). Berdiri, penulis artikan sebagai bangkit dan berkata sebagai bentuk karyanya, karena karya tidak hanya berbentuk materi. Begitu dahsyatnya Al-Qur’an surat Al-Kahfi, menyandingkan pemuda dengan istilah bangkit dan berkarya. Karena yang akan menyelesaikan problematika negeri ini adalah para pemuda yang beriman pada Allah Swt,. Dan di setiap kebangkitan, pemuda menjadi rahasia dan pembuka kunci keberhasilannya.
            Bangkit harus disertai pula dengan optimisme dan keberanian, karena optimisme dan keberanian menjadi nafas yang akan meneguhkan serta mengokohkan. Untuk bangkit setidaknya ada sebuah rekonstruksi cara berfikir, dari cara berfikir lama menjadi cara berfikir yang baru. Artinya ada sebuah modifikasi dan inovasi, yang tetap berpedoman pada prinsip dan kaidah yang benar. Sebagaimana dalam buku karya Jalaludin Rakhmat yang berjudul Rekayasa Sosial, bahwa untuk melakukan perubahan atau kebangkitan, maka upaya pertama yang harus dilakukan adalah benahi terlebih dahulu cara berfikirnya.
            Ide-ide dan gagasan-gagasan besar untuk perbaikan Indonesia itulah yang dibutuhkan saat ini. Tentunya ide-ide dan gagasan-gagasan besar yang disertai dengan implementasi yang nyata. Bukan hanya sekedar wacana dan jargon kosong tanpa isi. Sehingga ide dan gagasan besar yang diimplementasikan itulah yang disebut sebagai karya. Begitulah sejarah mencatat para pahlawan Indonesia dahulu dengan karya-karyanya yang hebat. Kini bumi pertiwi merindukan akan lahirnya para pahlwan baru yang siap bangkit dan berkarya untuk Indonesia yang lebih baik. Wallahu a'lam

Senin, 25 November 2013

Kepahlawanan Bocah Pekerja Malam

Kepahlawanan Bocah Pekerja Malam
Oleh : Fajar Romadhon

            Roda kehidupan akan senantiasa berputar sampai menemukan titik stagnasinya. Problematika dalam hidup bagaikan bumbu penyedap dari kehidupan itu sendiri. Tantangan-tantangan dalam hidup merupakan stimulasi kehidupan yang Tuhan sediakan untuk merangsang munculnya naluri kepahlawanan dalam diri seseorang. Namun, ada sebagian orang yang menganggap bahwa masalah itu sebagai beban dan ada lagi yang menganggapnya sebagai sarana latihan penempaan diri.
            Penulis hendak menuliskan kisah kehidupan bocah pekerja malam. Kisah ini diambil dari realitas yang penulis lihat sehari-hari. Sebuah kisah nyata. Patut disadari dan disyukuri bersama bahwa apa yang kita miliki sekarang adalah karunia Tuhan yang paling baik. Karena keadilan Tuhan merata kepada seluruh makhluk ciptaannya sesuai dengan proporsionalnya.
            Hampir setiap malam, penulis sering menjumpai bocah-bocah yang baru pulang dari pekerjaannya dengan memanggul beban karung yang dibawanya. Merekalah bocah pekerja malam, yang mengais rezeki dengan mengumpulkan barang-barang bekas atau rongsokan. Mereka setiap hari berangkat bekerja dari jam 18.30 malam dan pulang jam 23.00 malam. Mereka bekerja untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikannya. Tak jarang pula terkadang orang tuanya pun ikut serta dalam pekerjaan tersebut. Miris sekali penulis melihatnya, bocah-bocah itu berkembang tidak sesuai dengan bocah-bocah sezamannya.
            Penulis sangat hobi sekali membaca buku-buku dan menonton film-film  motivasi serta serial kepahlawanan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Dari buku-buku dan film-film itu terakumulasi menjadi suatu impian dan obsesi besar untuk membantu dan menuntaskan problematika yang ada di Indonesia. Seakan-akan  penulis ingin menjadi pahlawan kebajikan yang kini semakin hilang dari peradaban Indonesia.
           
            Jika setiap malam mereka bekerja, maka setiap pagi mereka mencari ilmu di bangku sekolah. Belajar dan bekerja itulah keseharian mereka. Bahkan mereka ada yang berdagang, menjajakan barang dagangannya ke setiap orang. Alam telah menempa mereka untuk menjadi pahlawan yang mandiri. Pahlawan bagi dirinya dan orang tuanya. Penulis melihat dalam raut wajah mereka tidak ada rasa kecewa sedikit pun, walaupun mereka berbeda dengan bocah-bocah sezamannya. Tersirat dalam raut wajahnya bahwa kelak nanti mereka akan mengubah kondisi keluarganya. Walaupun kini bocah-bocah itu harus bekerja dan mencari nafkah. Naluri kepahlawanannya muncul. Karena mereka yakin bahwa pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Tantangan-tantangan besar dalam sejarah hanya dapat dijawab oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Naluri kepahlawanan itu tumbuh seiring dengan alam yang menempanya menjadi pahlawan sejati.
            Melihat kisah kepahlawanan bocah-bocah itu, maka penulis pun terobsesi ingin menjadi pahlawan untuk mereka. Mereka tidak selamanya dibiarkan seperti itu, mereka harus diberikan tempat terhormat dalam panggung sejarah ini. Penulis mengagumi sisi kemandirian dari para bocah-bocah itu. Kepahlawanan bocah-bocah itu tidak usah dikagumi tapi diteladani sisi-sisi kebaikan dari kepahlawanannya. Oleh sebab itu penulis ingin memberikan apresiasi kepada mereka. Apresiasi harta, pikiran dan tenaga penulis. Karena penulis mengenal sebuah kaidah kepahlawanan bahwa orang-orang biasa yang melakukan kerja-kerja besar itulah yang dibutuhkan di saat krisis. Bukan orang-orang yang tampak besar tapi hanya melakukan kerja-kerja kecil. Penulis hanya orang biasa yang mencoba untuk berkarya besar, jika para penguasa tidak merepon realita seperti ini maka penulis yang akan bertindak. Karena penulis ingin menjadi pahlawan yang bekerja dalam diam dan sunyi untuk banyak orang, sampai nafas terakhir.
            Bocah-bocah itu sudah berani menanggung beban keluarganya dalam mencari nafkah. Keberanian inilah yang ingin penulis apresiasi juga. Mereka mengerjakan pekerjaan yang sebetulnya belum saatnya, tapi mereka berani menanggung resiko pekerjaan ini. Karena pekerjaan-pekerjaan besar atau tantangan-tantangan besar dalam sejarah senantiasa membutuhkan kadar keberanian yang sama besarnya dengan pekerjaan-pekerjaan atau tantangan-tantangan itu. Naluri kepahlawanannya sudah menggelora. Oleh sebab itu naluri kepahlawanan adalah akar dari pohon kepahlawanan. Sedangkan keberanian adalah batang yang menegakkan dan menguatkannya. Selain itu mereka sabar dalam menghadapi dan menjalani kehidupan ini. Mereka berani menanggung resiko dan sabar dalam menjalani semuanya. Oleh karena itu tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Sebab kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri seorang pahlawan.
            Penulis berusaha meneladani sisi kebaikan dan kepahlawanan dari bocah-bocak pekerja malam ini. Naluri kepahlawanan yang bergelora, rasa tanggung jawab kepada orang tua dan keluarga, keberanian, dan kesabaran. Itulah nilai-nilai kebajikan yang harus diteladani oleh khalayak. Penulis ingin memberikan fasilitas pendidikan yang baik kepada bocah-bocah pekerja malam itu. Karena pendidikan yang baik serta fasilitas kehidupan yang baik akan menjadikan mereka pahlawan yang akan mengantarkan perubahan bangsa Indonesia ini ke arah yang lebih baik. Calon-calon pahlawan bangsa ini harus diberikan tempat terbaik dan terhormat dalam pentas sejarah bangsa ini. Semoga impian penulis untuk menjadikan mereka pahlawan-pahlawan bangsa ini dapat terwujud. Wallahu a'lam.



Kamis, 13 Juni 2013

Indonesia Memanggil

Indonesia Memanggil
Oleh: Fajar Romadhon

            68 tahun refleksi kemerdekaan Indonesia. Indonesia berada dalam keterpurukan dan suasana pekat yang mencekam. Berbagai problematika bangsa ini yang tak kunjung usai dan semakin bertambah banyak, hanya akan menjadi bumbu yang akan menjatuhkan Indonesia pada jurang kehinaan. Negeri ini menangis, merindukan kembali Indonesia yang indah dan elok. Jiwa-jiwa yang berserakan itu belum sadar kalau negeri ini sedang membutuhkan uluran tangannya. Memang benar adanya kalau Anis Matta pernah mengatakan Indonesia ini tidak akan berdiri hanya dengan darah satu orang, hanya dengan keringat satu orang, hanya dengan air mata satu orang, hanya dengan ide satu orang. Oleh karena itu Indonesia masa depan tidak membutuhkan satu orang presiden, tapi membutuhkan sebuah tim impian.
            Hampir setiap hari di Indonesia ada pemberitaan tentang kasus kriminalitas, pembunuhan, pemerkosaan, tawuran, free sex, korupsi dan sebagainya. Belum lagi kekayaan alam bangsa ini, yang sebagian besarnya dikuasai oleh korporasi-korporasi asing. Negeri ini memang kaya, namun masih bisa dibodohi. Indonesia ini butuh tangan-tangan kreatif untuk menyulap dan mengoptimalkan kekayaan Indonesia menjadi hal yang produktif dan bermanfaat.
            Sederet masalah-masalah tadi, semuanya itu adalah imbas dari kurangnya pendidikan yang diberikan kepada masyarakat Indonesia. Sehingga masyarakat mengalami degradasi moral di berbagai aspek kehidupan. Degradasi moral menjadi masalah serius yang harus diselesaikan oleh bangsa ini. Menjadi solusi yang tepat atas degradasi moral ini, adalah dengan benahi sistem pendidikan di Indonesia. Pemerataan pendidikan harus ada di Negeri ini. Sehingga setiap strata masyarakat dapat mengenyam pendidikan dengan mudah. Pendidikan bukan hanya menjadikan seseorang cerdas intelektualnya lebih dari pada itu pendidikan harus bisa menjadikan pribadi seseorang yang berkarakter dan beradab.
            Sungguh miris ketika melihat kondisi pemuda Indonesia sekarang. Seakan-akan gelora kepemudaannya hilang tersapu oleh arus zaman. Seakan-akan ada kabut yang menutupi, sehingga pemuda lupa akan sejarah dan peranan gemilangnya. Pemuda adalah pewaris peradaban dan pemimpin masa depan. Masa depan bangsa ini ditentukan oleh para pemudanya. Hasan Al-Banna pernah berkata, di setiap kebangkitan, pemudalah pilarnya, di setiap pemikiran, pemudalah pengibar panji-panjinya. Dalam sejarahnya banyak para pemuda yang andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia ini. Pemuda sekarang harus mengetahui sejarah gemilangnya, dan kembali memulai untuk berkarya demi mengharumkan bangsanya. Ada sebuah buku dengan judul menagih kiprah pemuda, judul ini nampak menuntut sebuah eksistensi, meminta sebuah relisasi dan menginginkan pembuktian peran pemuda. Peran pemuda sebagai agent of change, iron stock dan social control harus bisa terinternalisasi dalam jiwa pemuda untuk direalisasikan. Pemuda harus bangkit dari keterpurukan, tidak lagi menutup mata atas masalah-masalah yang ada di Indonesia ini. Maka yang harus dilakukan pemuda adalah bersatu, bergerak dan berkarya untuk tuntaskan perubahan di Indonesia. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan “jangan kau tanyakan apa yang akan Indonesia berikan padamu, tapi tanyalah apa yang akan kau berikan untuk Indonesia”. Jiwa-jiwa yang berserakan itu adalah para pemuda, maka bersatulah. Tangan-tangan kreatif itu adalah para pemuda, maka berkaryalah. Tunas-tunas bangsa itu adalah para pemuda, maka pimpinlah Indonesia dengan baik. Kini Indonesia memanggil dan menagih kiprahmu wahai pemuda.
            Mengapa harus pemuda ? Karena dibalik rahasia kebangkitan, kuncinya adalah para pemuda. Dan yang dapat menyelesaikan problematika ini adalah para pemuda. Pemuda memiliki empat kekuatan yang tidak dimiliki  siapapun keculai oleh para pemuda itu sendiri. Pertama idealisme, pemuda dalam mengaplikasikan ide-idenya senantiasa didrive oleh nilai-nilai moral yang bersumber dari agama atau kultur masyarakatnya. Bukan keuntungan dan jabatan yang dicari, namun terealisasinya ide-ide itulah yang menjadi harapannya. Kedua intelektual, masa muda senantiasa ditandai dengan gaya berfikir yang argumentatif-ilmiah dan mengukur segala sesuatunya dengan logis-empiris. Ketiga sikap kritis dan kepekaan sosial, pemuda tidak hanya menonjolkan ranah pemikirannya, tapi pemikiran yang benar itu terejawantahkan dalam kepekaan terhadap sosialnya. Dan akan ada sikap perlawanan dari para pemuda, jika ada siapapun yang akan menghalangi pergerakan pemuda dalam merealisasikan cita-citanya. Keempat keberanian, dalam merealisasikan ide-idenya pemuda memiliki keberanian dalam menanggung setiap risiko yang akan dihadapinya. Dan pada titik inilah terakumulasi antara keberanian, kecerdasan dan kebenaran. Bangkitlah wahai pemuda, harapan itu masih ada. Buatlah Indonesia kembali tersenyum bahagia. Merdeka pemuda Indonesia. Wallahu a'lam.

Sosok KH. Hasyim Asy'ari